Saturday, December 3, 2016

An MTUC in need of transformation

An MTUC in need of transformation

December 1, 2016 
The time is ripe for the Malaysian Trades Union Congress to transform itself to meet present challenges in Malaysia as well as the global economic order.


By Callistus Antony D’Angelus

The Malaysian Trades Union Congress’ (MTUC) recent Triennial Delegates Conference (TDC) culminated in the delegates deciding upon a leadership change to serve its affiliates and Malaysian workers for the next three years. The team led by Abdul Halim Mansor and J Solomon won in the contest for most of the positions, edging out the team led by Abdullah Sani and N Gopalakishnam.

As with most elections, factions will be formed, of which there is often factionalism within the factions themselves. With the benefit of hindsight, this is something that is healthy and upon which rests the survival and vibrancy of any democratic and progressive institution. The MTUC has treated us to many such interesting, tense, and sometimes even divisive contests over the years.

Such contests invariably result in some winning and others losing, and this should be distinct from categorising the candidates as winners and losers. There is a place for everyone and the spirit of the contest, which is to make MTUC better and stronger, must be appreciated. There needs to be a coming together within MTUC and the likes of Sani and Gopalakishnam will continue to have a pivotal role to play – if they so desire.

The mandate to lead

The newly elected office bearers have been given a mandate to lead MTUC for the next three years, with the appropriate mechanisms in place such as the General Council to ensure that the leadership acts in accordance with the aspirations of the affiliates, trade union members and workers of the country. The new leadership must be given the support, space and time to establish themselves.

Halim is a veteran trade unionist and has spent many years in various positions within the MTUC, and is well versed with the industrial relations machinery. Solomon, in his more than a decade leading the National Union of Bank Employees (NUBE), is a dynamic and visionary trade union leader, who has pushed the boundaries many a time in his efforts to bring justice for workers. With the other elected leaders and with the support of the General Council of MTUC, they are in a good position to take the organisation to its next level.

There will continue to be disagreements within the MTUC, as is the case in almost any organisation, and this should be approached in a constructive manner. Petty bickering will only serve to detract the MTUC from the gargantuan task which lies ahead – to serve the interests of trade unions and workers in Malaysia.

The changing world and employment context

Workers and the middle class are increasingly disenfranchised and this is finding its voice all over the world. The BREXIT vote, the recent US Presidential election, the political direction of France, Italy and Austria are some examples of the status quo being challenged. The neo-liberal agenda, which has now established itself into the mainstream’s political, economic and social world order, has failed the common people and especially the workers. Globalisation and trade liberalisation in its present form, with insufficient safeguards for workers and the 99%, has caused an imbalance which is not sustainable.

In Malaysia, workers have been denied their fair share of the country’s economic progress – more so in the recent past than probably ever before. The rising cost of living, casualisation of labour, promotion of precarious employment practices and depression of wages has caught up and the common Malaysian worker is paying a heavy price for it. Trade union legislation, which is supposed to be in place to accord workers an appropriate right of representation and the facility to collectivise, has regressed over the years. It is now the case that the entire system can be said to be anti-labour.

The MTUC is the right body to re-establish the place that labour should occupy in society, and this is not going to be done easily and will require a lot of hard work and most of all unity within MTUC.

An MTUC in need of transformation

MTUC has served workers and trade unions well over the years, despite the limitations imposed upon it by the system. The time has come though for the MTUC to consider a need to transform itself to meet the challenges of current-day Malaysia and the global economic order. Apart from the administration of the MTUC, areas such as organisation of trade unions and trade union membership, research and education, public relations and its image as a whole need to be reviewed.

The MTUC needs to be relevant to all workers, and especially the younger generation. A pipeline should also be developed for new leaders to emerge. The outreach of the organisation should be wide and inclusive, extending itself to as many workers as possible.

MTUC remains the organisation to represent Malaysian workers and trade unions, and it should now step-up and come together to attain this objective in the real sense.

Callistus Antony D’Angelus is an FMT reader.

With a firm belief in freedom of expression and without prejudice, FMT tries its best to share reliable content from third parties. Such articles are strictly the writer’s personal opinion. FMT does not necessarily endorse the views or opinions given by any third party content provider. - FMT News, 1/12/2016

Thursday, November 24, 2016


MTUC - Pemilihan barisan kepimpinan baru akan dilakukan tak lama lagi. 

Saperti parti politik nampaknya ada Team A, Team B dan mungkin juga Team C - bagaimanakah delegasi memilih pemimpin? Adakah berasaskan sama ada dalam Team ini atau itu, atau adakah akan memilih pemimpin terbaik yang akan benar-benar berjuang untuk hak pekerja dan kesatuan, tanpa memikirkan risiko pada diri sendiri (termasuk juga risiko diambil tindakan undang-undang, kena tangkap dan didakwa di Mahkamah, didiskriminasi daripada mendapat keuntungan peribadi atau pangkat dalam Board KWSP, dll...). Pemimpin hanya mahu pangkat atau yang hanya mahu 'hubungan baik' dengan kerajaan dan mungkin juga majikan bukan jenis pemimpin yang sesuai...Adakah anda akan memilih berasaskan sejarah perjuangan, prinsip dan nilai peribadi, ethnik atau agama, atau mereka yang benar-benar akan berjuang secara berkesan? Apakah janji yang diberikan mengenai apa yang akan mereka berjuang untuk - serta juga komitment mengenai cara perjuangan (akan hanya pi temui Menteri dan Jabatan - ATAU adakah akan berjuang bersama pekerja - 2 cara yang berbeda)

PEKERJAAN - adakah akan berjuang untuk pekerja mendapatkan kerja tetap sampai bersara (atau sekurang-kurangnya sehingga majikan tutup kedai atau berlaku retrenchment akibat faktor munasabah) - Kini, kerajaan membenarkan majikan mengambil pekerja kontrak jangka pendek/tetap, ini pekerjaan tak stabil kepada pekerja - jika tuntut dibuang kerja secara salah juga, hak terima kembali kerja tersangat tipis kerana hak bekerja hanya hingga tarikh akhir kontrak, dan pampasan juga akan berasaskan tarikh akhir kontrak - hak pampasan 24 bulan(yang juga tak adil) pun tak dapat?

KERJA KONTRAK JANGKA PENDEK/TETAP - Adakah pemimpin akan berjuang akan hapuskan sistem pekerjaan sedemikian? Adakah akan menuntut kerja kontrak jangka tetap hanya dibenarkan untuk pekerja yang tidak kerja dalam 'core business' majikan? Adakah akan berjuang menghadkan pengunaan pekerja kontrak jangka pendek kepada tidak lebih 5% tenaga pekerja keseluruhan majikan? 

Sistem 'contractor for labour' - Ini lagi teruk. Boleh hilang kerja di sesuatu tempat kerja bila-bila masa - tanpa juga 'Domestic Inquiry'. Melemahkan UNION tempat kerja - kerana majikan tak lagi takut Union - kalau strike pun - majikan terus boleh berurusan dengan pekerja yang dibekalkan oleh 'contractor for labour' ini. 

SISTEM 'CONTRACTOR FOR LABOUR' - Adakah pemimpin akan terus berjuang menghapuskan sistem ini - tak dibenarkan langsung. Semua pekerja yang dibekalkan kini boleh terus diambil kerja majikan setempat - menjadikan mereka pekerja regular yang boleh menyertai UNION menjadikan union kuat kembali dan tambah kuasa tuntutan Union?

TPPA - Memandangkan risiko dan kesan negatif kepada rakyat Malaysia - termasuk penambahan kos hidup. Adakah pemimpin akan terus membantah TPPA?

PINDAAN UNDANG-UNDANG - Apakah pindaan undang-undang yang akan diperjuangkan...kena jelaskan...

Penambahan Keahlian MTUC - adakah kepimpinan akan beri komitmen menarik lebih banyak Union masuk MTUC - kini hanya lebih kurang 30% kesatuan sedia ada yang menjadi ahli MTUC?

CARA PERJUANGAN - Masih hanya merayu kepada kerajaan, dan membuat aduan kepada kerajaan - atau akan tukar strategi dari strategi 'RAYU dan ADU' kepada strategi berjuang habis-habis bersama semua kesatuan, pekerja dan rakyat...

PENDAPATAN PEMIMPIN - jika dilantik kepada mana-mana Komisi, atau Board saperti KWSP - semua pendapatan diperolehi akan kembali kepada MTUC atau masuk poket sendiri? Adakah akan mendapat arahan semua ahli MTUC sebelum membuat apa-apa pendirian dalam posisi lantikan sedemikian? Adakah akan terus secara terbuka melapurkan kepada semua ahli dan pekerja apa yang berlaku dan apa yang dibincangkan, dan apakah pendirian MTUC dalam semua posisi lantikan secara terbuka?

Ini antara perkara penting yang harus difikirkan bila memilih kepimpinan baru - kalau tidak, MTUC dan Kesatuan akan terus kekal tak relevan dan tak disegani kerajaan/majikan...

PENILAIAN KEPIMPINAN KINI-- Apa yang menang? [Kini apa yang dituntut pun tak dimaklumkan secara terbuka dalam Laman Web - jadi ahli/pekerja tak tahu pun apa-apa]

LAMAN WEB - Penilaian kandungan dan kualiti nampaknya tak ada apa-apa perubahan.

KENYATAAN DAN PENDIRIAN - Secara purata, munkin lebih kurang 3-4 sebulan sedangkan nyata isu pekerja lebih daripada itu...

LATIHAN KEPIMPINAN DAN HAK PEKERJA - bahan bertulis pun tidak ada dalam laman web...yang dibuat pun berapa? Berapa banyak latihan? Berapa yang hadiri? 

Yang menyedihkan adalah nampaknya MTUC sudah tergantung(stagnant) beberapa tahun - Himpunan 1 Mei pun hanya dapat penyertaan kurang 500 - ertinya kepimpinan gagal menanam semangat solidariti dan mengerakkan pekerja keluar berjuang ... Initiative terakhir adalah protes seluruh negara menentang sistem contractor for labour - selepas itu tak ada pun initiatif lain [Workers Walk dua kali pun sebenarnya BUKAN initiatif MTUC tetapi initiatif kumpulan unionist (walaupun ramai dari Union ahli MTUC)...]

MTUC ADALAH WAKIL SEMUA PEKERJA (Lebih 15 Juta), yang diiktiraf kerajaan Malaysia dan juga ILO, bermakna MTUC adalah kuasa besar yang harus disegani semua pihak, termasuk Majikan dan Kerajaan - TETAPI adakah MTUC dihormati sedemikian...? Keahlian MTUC sudah rendah - lebih kurang 30% Kesatuan sedia ada...

Himpunan beramai-ramai sama ada pada 1 Mei atau untuk isu lain diperlukan dari masa ke masa untuk membuktikan bahawa MTUC dan pergerakkan buruh adalah bersatu dan KUAT - baru kerajaan dan majikan akan dihormati? Kenyataan yang ditandatangani banyak UNION kadang kala juga cara membuktikan kekuatan Union  - kini kenyataan MTUC tak pasti pun sama ada sokongan Union ahli MTUC dan juga Union lain bukan ahli MTUC...adakah ini hanya kenyataan seorang pemimpin atau hanya pernyataan Exco MTUC sahaja...?

Bagaiman dengan AKTA MAS tersebut - Adakah MTUC membuat aduan kepada ILO? Malaysia telah membuat Akta yang bukan sahaja membatalkan hak pekerja sedia ada (tetapi juga memprejudiskan hak pekerja untuk menuntut keadilan - kes melibatkan MAS ditangguh, kini jika menang pun, MAS tak ada keupayaan beri kerja atau pampasan yang Mahkamah  perintahkan), Hak untuk dibuang kerja berasakan prinsip LIFO telah dielakkan, Hak untuk menjadikan MAB syarikat yang mengambil alih perniagaan juga telah dihalang oleh Akta (jangan lupa pemilik sama - hanya buat syarikat baru - saperti dibuat oleh Haris dulu), Akta menyebabkan UNION Busting - semua Union dalam dibunuh. Hanya MTUC (wakil pekerja di Malaysia) yang boleh membuat aduan diperingkat ILO - Adakah MTUC buat atau gagal? Kegagalan MAS ini menyebabkan ramai pekerja, yang sepatutnya tidak hilang pekerjaan jika prinsip LIFO diikuti, telah kehilangan kerja. Banyak Union juga telah bungkus. Sekarang MAS - mungkin akan datang undang-undang lain untuk syarikat lain. Isu wajar diadu kepada ILO  - menang kalah tak penting? Ini isu prinsip..Jika tak buat, mengapa tak buat? Tahun hilang tempat dalam Board KWSP, dan ...?

ADAKAH TERDAPAT ALTERNATIF KEPADA PEMIMPIN SEDIA ADA? Jangan lupa semua UNION ada keupayaan keluar dengan kenyataan atau membuat tindakan, sama ada protes atau kempen, mengenai apa-apa isu melibatkan hak pekerja di Malaysia - Malangnya, tak nampak pun pemimpin lain (bukan dalam Exco) pun tak berbuat demikian...Mereka dalam EXCO(Majlis Tertinggi MTUC), jika ada pendirian lain, boleh menyatakan pendapat/pendirian tak payah tunggu MTUC buat... [Dan ada juga pilihan pemimpin baru yang wujud - contohnya mereka yang membuat initiatif 'Workers Walk' - dan mungkin juga beberapa pemimpin MTUC peringkat Negeri - saperti Selangor & WP,..mungkin juga Penang..]


ATAU - jika anda pendirian pemimpin sedia ada GAGAL - MUNGKIN BAIK UNTUK TUKAR SEMUA - LANTIK SEMUA BARU - Mesej yang mungkin akan disampaikan dengan cara ini, adalah ahli tidak akan berfikir dua kali membuang sahaja mereka yang gagal - Mesej kepada kepimpinan baru, jika anda tak bawa perubahan - mereka juga akan dibuang saja...

Punca KEGAGALAN MTUC adalah ahli MTUC sendiri - Jika kepimpinan tak buat, ahli perlu tuntut buat...tapi jika ahli juga berdiam diri sahaja - tanggungjawab kegagalan MTUC jatuh kepada Kesatuan ahli MTUC sendiri..

Apa nak buat? Ahli kena pilih pemimpin dengan baik berasakan bukan samada kawan, sama ada ada janji atau apa-apa 'rasuah' - tetapi berasaskan penilaian peribadi yang mahukan pemimpin yang akan menjadi MTUC lebih relevan dan berkesan... 

Yang dipilih, jangan hanya mereka yang pandai berceramah - tetapi mereka yang pandai berjuang secara berkesan bersama semua pekerja/union di Malaysia - mereka yang akan berjuang secara TERBUKA dengan berani...yang akan mengembalikan rasa segan kepada MTUC dan pergerakan buruh di Malaysia.


Tuesday, November 22, 2016

MTUC menjelaskan pendiriannya membantah TPPA

 MTUC menjelaskan pendiriannya membantah TPPA

From the beginning, Malaysian Trades Union Congress (MTUC) has pointed its opposition towards the TPPA. MTUC believes that the TPPA would bring more negative implications on the interest of Malaysia, to our people especially workers.


MTUC Urges Malaysia To Implement Labour Laws Reforms Regardless of TPPA's Uncertainty

16 November 2016 
AS expected, the results of the US presidential election has led to uncertainty about the future of the Trans-Pacific Partnership Agreement (TPPA). This is very much clear as the President Barack Obama’s administration has suspended its efforts to win Congressional approval for his Asian free-trade deal before President-elect Donald Trump takes office on January 20, 2017. Now TPPA’s fate was up to Trump and Republican law makers. Trump made his opposition to the TPPA by stating that he will scrap the TPPA, renegotiate the 22-year-old North American Free Trade Agreement and adopt a much tougher stance with China trade.

From the beginning, Malaysian Trades Union Congress (MTUC) has pointed its opposition towards the TPPA. MTUC believes that the TPPA would bring more negative implications on the interest of Malaysia, to our people especially workers. As TPPA is facing uncertainties and it is almost clear that the implementation in 2018 won’t take place as planned and negotiated, thus MTUC is looking forward to see reforms in the labour laws in Malaysia. It is our hope that Malaysia will implement labour laws reforms to enhance protection on our workers.

Last year our government has agreed to amend various labour laws and regulations in line with TPPA’s negotiation process. Among others are provisions and commitments highlighted in the International Labour Organisation (ILO) Declaration of 1998. For this to be done successfully, there will be at least eight law amendments concerning the provisions on forced labour and freedom of association.

The amendments are required for the Employment Act 1955, Trade Union Act 1959, the Child and Young Persons (Employment) Act, 1966, Passport Act 1966 (implementing regulations), Industrial Relations Act 1967, Sabah Labour Ordinance (Chapter 67), Sarawak Labour Ordinance (Chapter 76), Private Employment Agencies Act 1981 and the Workers’ Minimum Standards of Housing and Amenities Act 1990.

MTUC had requested our government to carry out reforms of labour laws to ensure harmonious and a stable working environment in Malaysia long before the TPPA negotiations took place. Whether TPPA will be implemented or not, MTUC hopes that Malaysia will bring labour laws reforms.

We believed that with drastic reforms in our labour policies, there will be a tremendous change in the way employees and employers behave and interact with each other and with regulators. Furthermore MTUC also believe that strengthening our labour policies will be a game-changer that can be the enabler to propel Malaysia into a developed nation status, where workers’ rights are protected and upheld.

As series of engagement and discussion took place since last one year, we hope that the government will bring the amendments to the Parliament as planned next year, and subsequently implement it for the betterment of our workforce and country.

N. Gopal Kishnam
Secretary General

Strikes don’t cause firms to go bankrupt – MTUC Sarawak

Strikes don’t cause firms to go bankrupt – MTUC Sarawak

16 November 2016 Print page
(From right) MTUC Sarawak chairman Mohamad Ibrahim Hamid, Lo and MTUC Sarawak assistant secretary Law Kiat Min meeting with The Borneo Post journalist at MTUC office in Queen’s Tower, Kuching.
(From right) MTUC Sarawak chairman Mohamad Ibrahim Hamid, Lo and MTUC Sarawak assistant secretary Law Kiat Min meeting with The Borneo Post journalist at MTUC office in Queen’s Tower, Kuching.

KUCHING: The freedom for unions to strike will not cause companies to go bankrupt and economies to fall but will improve companies’ management and drive the economy forward.

This is the view of MTUC (Malaysian Trades Union Congress) Sarawak which is advocating amendments to the Malaysian Labour Law, a mandatory requisite if the Trans-Pacific Partnership Agreement (TPPA) were to be ratified.

In expressing this view, MTUC Sarawak secretary Andrew Lo said Malaysian Labour Law was below standard, pointing out that its major flaw is the restriction for employees to join unions of other industries/trades/establishments/occupations and the restriction for employees to strike.

Citing countries such as South Korea and Australia as examples, Lo said countries with strong unions and the freedom to strike would not make companies or countries bankrupt.

“Strike does not make a company bankrupt. Actually, it makes the management better and the company more productive as well as more transparent as unions are good whistleblowers. Look at countries such as Australia and South Korea, they have unions and they are much better-off than us at anytime.

“Since the formation of Malaysia, there only one strike in Malaysia. It happened in 1962 when 9,000 railway workers went on strike to demand conversion of daily wages into monthly salaries. Yes, Malaysia is peaceful with no strike. But look at our economy. Are we doing better than South Korea and Australia?” Lo told The Borneo Post on Monday.

He said even for local companies with strong unions such as Telecom or banks, they had been performing well and were productive.

“The government knew and therefore it is willing to have a Labour Chapter. The government knew that if we are not going to change, the workers will not earn more. And if the workers are not earning more, their purchasing power will remain low.

“Malaysia has wanted to increase domestic demand. How are we going to increase domestic demand when the workers are not properly paid? To increase our domestic demand, we have to pay our workers better. And this can be done through empowering the unions,” stressed Lo.

Upon analysis, Lo said he strongly believed that there was a high chance for TPPA to be ratified despite Donald Trump winning the US presidential election. As such, he said it would be mandatory for Malaysia to make necessary amendments to the Labour Law.

He further said amendments were inevitable because it was a requisite to participatory nations of TPPA to have a Labour Law that is governed by core labour standards set by the International Labour Organisation.

“Presently, a person working in banking can only join the bank union and not other unions such as journalist union. That is why there are about 800 unions in Malaysia, but the membership for each union is always small, between 50 and 200.

“With such a small number, unions cannot be effective. With amendments to our Labour Law, anyone can join any union they want. With unions having a big number, then they can be more effective.”

He said another major amendment is to allow unions to strike.

“Quoting the words of a top eminent Italian Judge – without the right to strike, collective bargaining is nothing more than begging. Unions must be given the right to strike to be effective,” Lo pointed out.

Although the present Labour Law does allow strike it imposes restrictions such as processes to be completed, including secret balloting whereby a two-third majority of membership is required, making it impossible to strike, he added.

MTUC proposes unrecorded leave for employees affected by high tide

MTUC proposes unrecorded leave for employees affected by high tide

15 November 2016
SHAH ALAM: The Malaysian Trades Union Congress (MTUC) has urged private sector employers to consider granting unrecorded leave to employees who are affected by the high tide which hit some coastal areas since yesterday.

MTUC deputy secretary-general A. Balasubramaniam said this was one way of easing the difficulties faced by employees living in areas at high risk of flooding due to highj tide which is expected to last until Friday.

“Some residents in Batu 5, Kapar were affected during the last wave of high tide in October where their homes were inundated by flood waters.

“Some could not go to work as the roads were flooded,” he told Bernama. Balasubramaniam said private sector employers should consider granting unrecorded leave for their employees affected by high tide, and consider it as their social responsibility.

Klang and Sabak Bernam districts are at high risk of flooding while Kuala Selangor, Kuala Langat and Sepang are also under threat. — Bernama

Saturday, November 19, 2016

Kenyataan MTUC mengenai Bajet 2017 dan beberapa komen...

Bajet 2017 adalah berkenaan bagaimana kerajaan akan membelanjakan wang kerajaan pada tahun 2017 dan bagaimana kerajaan akan meningkatan pendapatannya...

SUBSIDI - ini isu relevan berkenaan Bajet 2017

BRIM - isu relevan

Tetapi perkara yang tidak melibatkan pendapatan atau perbelanjaan kerajaan tak secara langsung relevan kepada Bajet 2017...

BR1M kini bukan HAK - jika termaktub dalam undang-undang, ia menjadi hak. Kini hanya bergantung kepada budibicara Perdana Menteri dan kerajaan semasa.

BR1M hanya penyelesaian sementara - sedekah - ia tidak menjamin peningkatan pendapatan masa depan. Adakah ini bagus? MTUC boleh tuntut bahawa hak warga dan keluarga miskin berpendapatan rendah dijadikan hak rakyat, yang termaktub dalam undang-undang?

Satu isu yang harus ditentang adalah peningkatan jumlah pinjaman perumahan kepada penjawat awam kepada RM750 ribu - Bila kerajaan berikan pinjaman dengan faedah rendah - banyak wang kerajaan belanjakan. Wajar jika pinjaman perumahan dinaikkan kepada RM250,000, di mana selebihnya boleh dapatkan pinjaman bank sama saperti pekerja swasta kini. 

Kerajaan boleh juga menawarkan pinjaman perumahan kepada pekerja swasta pada kadar sama mungkin untuk pekerja swasta berpendapatan RM3,000 atau kurang...Ini sesuatu yang MTUC boleh menuntut tetapi tidak...Kenapa tidak..

Isu penambahan gaji minima dan COLA pekerja swasta sebenarnya tak ada kaitan terus kepada Bajet 2017 kecuali ia dikaitkan. Mungkin boleh dicadangkan bahawa kerajaan akan tanggung 50% pembayaran COLA ini, dsb...Kalau tidak ada kaitan - mengapa timbulkan isu ini di sini?




MTUC Terkilan dan Kecewa dengan BAJET 2017

22 October 2016 
MTUC mengalu-alukan Bajet 2017 yang memberikan slogan ‘Untuk Rakyat kerana Rakyat’. Pelbagai inisiatif telah diberikan kepada pelbagai golongan terutamanya yang berpendapatan rendah umpamanya:

Mengekalkan subsidi bahan api bagi gas memasak, pampasan tol dan pengangkutan awam;
Memberi pelepasan pembelian peralatan penyusuan ibu dan pelepasan hantar anak ke pusat asuhan kanak-kanak dan prasekolah;

Pelbagai bantuan kepada nelayan dan pekebun bagi membolehkan mereka meningkatkan pendapatan mereka dengan subsidi harga padi, dan benih padi;

Pelbagai inisiatif bagi memudahkan pemilikan rumah persendirian dan pinjaman perumahan;
Pemberian inisiatif kepada pemandu teksi, geran RM5000 untuk membeli kenderaan baharu dan menawarkan permit teksi;

Bantuan Rakyat 1Malaysia-Kadar BRIM ditingkatkan.

Namun demikian MTUC amat kecewa dan terkilan kerana tiada faedah bagi pekerja-pekerja sektor swasta. Antara isu-isu yang MTUC merasakan langsung tidak diendahkan ialah:

Gaji Minima – permintaan MTUC untuk meningkatkan kadar kepada RM1200.00 bagi Semenanjung, Sabah dan Sarawak.

COLA RM300 sebagai elaun sara hidup bagi pekerja-pekerja dalam sektor swasta.

Caruman KWSP bahagian pekerja masih tidak ditingkatkan kepada 11%.

Subsidi minyak masak yang dimansuhkan. 

Bujet 2017 walaupun memberi kemudahan dalam pelbagai aspek kepada sesetengah golongan namun pemansuhan subsidi harga minyak masak bakal meningkatkan lagi harga barangan makanan. MTUC amat tidak menyokong sebarang kenaikan terhadap harga barangan makanan kerana tindakan kenaikkan harga minyak pada bulan depan sebanyak RM0.40 sen bagi sekilo dan RM1.90 bagi 5kg akan meningkatkan semua harga barangan.

Segala pemberian dan peningkatan bayaran bantuan rakyat tidak akan memberi sebarang makna sekiranya harga barangan naik secara mendadak. Kenaikkan harga barangan boleh menjurus kepada pelbagai permasalahan dan menyukarkan kehidupan isirumah dan golongan berpendapatan rendah bagi membiayai kos hidup harian mereka. Lebih-lebih lagi dengan kadar inflasi negara yang agak tinggi dengan kenaikan harga petrol dan GST.

Pengumuman kenaikan harga minyak telah menyebakan ramai pembekal telah mengurangkan penjualan minyak masak di pasaraya. Tinjauan MTUC semalam membuktikan ada setengah-tengah pasaraya telah kehabisan minyak masak.

MTUC juga tidak sokong dengan bujet yang menganaktirikan pekerja-pekerja sektor swasta. Sumbangan pekerja-pekerja sektor swasta amat penting dalam menjana pertumbuhan ekonomi negara dan tidak harus diabaikan.

N.Gopal Kishnam,
Setiausaha Agung

Tuesday, November 1, 2016

MTUC tak puas hati dengan kenaikkan harga petrol - APA PENYELESAIANNYA MTUC?

Bagus MTUC keluarkan kenyataan mengenai kenaikkan harga petrol - Tetapi apa pendirian MTUC mengenai kenaikkan kadar tol, kenaikkan harga minyak masak (kerana kerajaan tarik balik subsidi),...
Kenapa MTUC belum keluar kenyataan pada masa ini menuntut kerajaan segera peruntukkan RM1 billion - untuk kebajikan pekerja - khususnya Bantuan Segera Pekerja Tiada Kerja Yang Mencari Kerja - UNEMPLOYMENT BENEFIT. Ini adalah satu 'social security' yang jelas diperlukan kini...Jika kerajaan UMNO-BN terima pandangan ini, pekerja boleh mula dapat bantuan kewangan sementara jika mereka kehilangan kerja mulai 1 Januari 2016... 
Tuntutan sedemikian perlu dibuat sekarang sebelum Bajet 2017 diluluskan - kena kempen sekarang...
Tapi adakah MTUC akan memimpin...atau adakah kepimpinan MTUC ada minat - UNION lain juga boleh mengambil tindakan...
Isu petrol naik turun perkara biasa...Adakah MTUC minta subsidi lebih untuk petrol? 
Bila berdepan dengan kerajaan dengan aduan atau situasi menyusahkan pekerja - MTUC juga perlu ada CADANGAN pasti...PERMINTAAN PASTI...ini akan lebih berkesan - cuma permintaan kerajaan menyelesaikan masalah ini secara am...tidak begitu berguna..
Mungkin MTUC boleh minta kerajaan mansuhkan undang-undang yang membolehkan majikan membayar OT untuk satu bulan. Kerja OT bulan Januari - kena bayar bersama gaji bulan Januari...bukan tangguhkan bayaran sehingga masa nak bayar gaji bulan Februari...??
MTUC harus tidak hanya membawa perhatian kepada kesusahan pekerja - tetapi perlu juga memberikan CADANGAN jelas apa yang kerajaan harus lakukan untuk mengatasi kesusahan pekerja. Baru senang kerajaan mengambilkira cadangan - jika tak setuju, kerajaan akan menyatakan sebab dan mungkin akan memberikan cadangan alternatif... Kalau tida - kerajaan akan hanya biasa buat kajian lama..dan pekerja terus sengsara...


MTUC disappointed, petrol price hike must be reviewed

 N Gopal Kishnam     Published (2/11/2016)     Updated
The Malaysian Trades Union Congress (MTUC) is disappointed with the price hike of petrol and diesel, which increased by 15 sen a litre on Nov 1, where it is believed that the increase is the highest this year.

As all of us knew, the current prices of the fuels are higher than the January prices of RM1.85 a litre (RON95), RM2.25 (RON97) and RM1.60 (diesel).

MTUC believes that the increase is related with government’s policy of subsidy restructure.

MTUC also believes that the price increase of petrol and diesel is not a practical move as it will contribute towards negative consequences on the people’s life.

Therefore, MTUC strongly views that the increase is not justified as it would further burden the rakyat, who are facing the serious rising cost of living. Various parties will take the opportunity to increase the prices of goods.

Rather than revising the subsidy and allowing the price of fuel to go up, MTUC is hoping that the federal government will introduce attractive and constructive plans to overcome the cost of living. This is also the people’s hope.

As such, we want the government to cushion the prices of petrol and diesel by subsidising them accordingly.

This includes using the goods and services tax collections, which was reported to be RM30 billion as at Oct 19, 2016, as announced by the prime minister when tabling the Budget 2017 on Oct 23.

N GOPAL KISHNAM is secretary-general of the Malaysian Trades Union Congress.

Mengelakan syarikat majikan tipu pekerja [Gaji/Caruman KWSP/..] - Jadikan Pengarah/Permilik PENJAMIN?

Masalah kini adalah majikan tutup operasi buang pekerja tetapi masih berhutang berbulan-bulan gaji, caruman kepada KWSP tidak dibuat... Bila dituntut daripada syarikat majikan, mereka kata syarikat 'bankrap'...atau 'winding-up'...tak ada duit untuk membayar pekerja ...


1 - Jadikan pengarah syarikat dan pemilik saham sebagai Penjamin untuk apa-apa keberhutangan syarikat majikan kepada pekerja ...

Jika ini dilakukan, jika syarikat 'bankrap'/tak ada wang - pekerja boleh tuntut terus kepada mereka yang menjadi penjamin.

Kini bank, bila memberi pinjaman kepada syarikat, satu syarat biasa adalah meminta 3 atau lebih Pengarah menjadi penjamin (kadang-kadang minta juga pemegang saham terbesar jadi penjamin...). Bank PANDAI - jika pun syarikat tak dapat menjelaskan hutang bank - bank akan terus kejar penjamin...

- Undang-undang boleh digubal menjadikan pengarah dan/atau pemilik menjadi penjamin, yang akan membayar, jika syarikat majikan berhutang kepada pekerja...
Collective Bargaining Agreement(Perjanjian Bersama) - ini boleh juga dimasukkan kini dalam CBA...atau dalam kontrak kerja..

Bank juga biasa mahukan hartanah sebagai sekuriti - mungkin taktik sama boleh digunakan oleh pekerja/Union - kilang/alat perkakas kilang/tanah milik syarikat majikan...[Malangnya 'contractor for labour' - tak ada apa-apa sebagai sekuriti...

Majikan juga boleh dipaksa membeli Insuran khusus untuk mempampas keberhutangan syarikat majikan kepada pekerja - Skim Pampasan ini, majikan yang harus membayar semua ...



FAEDAH 'UNEMPLOYMENT' - Bantuan Sementara Pekerja Tak Ada Kerja Sehingga Dapat Kerja Baru? Ada yang 'confuse'?


Monday, October 31, 2016

Mengapa Islam Menggalak Kesatuan Sekerja? (Labour Bulletin)

Mengapa Islam Menggalak Kesatuan Sekerja

Pandangan lslam terhadap buruh atau kesatuan sekerja amat mendukacitakan. Kebanyakan pemikir-pemikir Islam kurang arif tentang hal perburuhan. Minoritinya telah menulis secara mudah dan juiur akibat dari kurang pendedahan. Kisah-kisah Nabi Nuh sebagai tukang kayu, Nabi ldris sebagai tukang jahit, Nabi Musa dan Nabi Muhamnad sebagai pengembala kambing. Dua atau tiga Hadis mengenai pekerjaan selalu disebut tetapi ini sahajalah bahan mengenai perburuhan yang dimiliki oleh para pemikir Islam tradisional. Kebanyakan daripada mereka yang telah menulis mengenai perburuhan cuba mengelak daripada menyebut isu kesatuan sekerja seolah-olah perkara tersebut adalah menjadi pantang-larang. Malahan setengah daripada mereka percaya bahawa kesatuan sekerja tidak selaras dengan lslam dan peraturan-peraturannya.
Sikap ini tidak berasas sekali dan sebab utamanya ialah kerana mereka kurang arif dan kurang pendedahan terhadap isu kesatuan sekerja. Mereka tidak mendapati apa-apa rujukan mengenainya di kitab-kitab Fiqh, Hadis atau Tafsir yang ditulis 10 abad yang lalu. Kesudahannya, terjadilah suatu jurang pemisahan yang besar diantara pemikir-pemikir Islam moden dan pemikir-pemikir Islam tradisional mengenai isu yarg penting ini. Inilah sebab utamanva dan bukannya perbezaan di antara nilai Islam dan kewujudan kesatuan sekerja.
Organisasi-organisasi Ketukangan Dalam Islam
Organisasi-organisasi ketukangan (Guilds) (pendahulu kepada kesatuan sekerja) telah lama wujud dalam masyarakat lslam sejak awal abad ketiga lagi. lbn Battuta (1304-1378M) yang menjelajahi dunia di sebelah sini sebelum Marco Polo menulis tentang Goudia atau Karmia di bandar-bandar lslam di Asia yang dilawatinya. Persatuan-persatuan ini digelar Persaudaraan dan fraternitas. Ianya diorganisasikan mengikut seni kemahiran ketukangan masing-masing. Tiap-tiap persatuan mempunyai masjidnya tersendiri yang digunakan sebagai ibu pejabat dan tapak untuk majlis-majlis dan perayaan-perayaan.
lbn Battuta menyatakan akan kekagumannya akan dengan adat resam serta layanan ramah mesra mereka. Jalinan yang erat diantara pertubuhan ini dengan Ahli-ahli Sufi sungguh ketara. Setiap bidang ketukangan mempunyai sheikh atau imamnya tersendiri. Pertubuhan ini juga mempunyai hubungan rasmi dengan Al-Mutasib, pegawai awam yang bertanggungiawab dalam hal ehwal pemasaran. Ia mengawal kemahiran (pekerjaan), mengeluarkan polisi serta mewakili pemilik-pemilik (majikan), pekerja dan apperantis. Tiada siapa boleh menubuhkan “woksyop” tanpa kebenaran daripada pertubuhan ini. Majlis akan diadakan untuk meraikan ahli-ahli baru. Majlis dimulakan dengan bacaan Al-Quran dan doa dibacakan untuk kesejahteraan semua dan diakhiri dengan doa untuk Nabi Muhammad S.A.W.
Organisasi-organisasi ini wujud hingga ke awal kurun ke-19. Menurut Ali Pasha Mubarik (1823-1893) dianggarkan ada 198 persatuan di Kaherah dalam separuh abad ke-19 dengan jumlah ahli persatuan sebanyak 360,489 orang. Dimasa inilah berakhir satu adat dan tradisi dimana majlis menerima pekerja baru mengikut lunas-lunas Islam. Di dalam majlis ini bacaan al-Quran diperdengarkan dan peserta baru dikalung lengannya dengan gelang dan diakhiri dengan doa selamat untuk sheikh dan nabi Muhammad S.A.W.
Hubungan antara persatuan-persatuan ini dan Tarikat Sufi sebagai satu pihak dengan Al-Mutasib sebagai pihak yang lain membuktikan bukan sahaja persatuan ini diakui sah didalam tamadun Islam dari abad ke-3 hingga abad ke-13 tetapi juga memainkan peranan yang berguna kepada ahlinya, pelanggan-pelanggan, industri itu sendiri dan masyarakat secara umumnya.
Memang ada perbezaan di antara organisasi-organisasi ketukangan ini dengan kesatuan sekerja moden akan tetapi pada dasarnya adalah sama. Masing-masing mewakili ahli-ahlinya dan mempertahankan hak-hak mereka. Jika fungsi ini tidak selaras dengan prinsip-prinsip Islam mengapa masyarakat Islam menerimanya selama 10 abad mengiktiraf dan yakin dengan kewujudannya untuk berfungsi sebagai agen pembangunan di dalam masyarakat tersebut.
Matlamat Kesatuan Sekerja: Keadilan
Jika kita ingin menerangkan matlamat kesatuan sekerja dalam satu perkataan; perkataannya ialah keadilan. Kesatuan sekerja ditubuhkan untuk menegakkan keadilan hakiki. Kesatuan sekerja ditubuhkan untuk menghalang ketidakadilan dan membolehkan pekerja hidup dengan selesa. Jika matlamat utama kesatuan sekerja ialah keadilan begitu juga matlamat Islam. Mengapa? Kerana lslam bukan hanya agama untuk beribadat sahaja. Ia merangkumi aspek-aspek sosial, dan potitik sebagai Ad-din mengharam kezaliman dan riba dan menggerakkan Al-syura dan zakat adalah contoh-contoh jelas prinsip-prinsip Islam di dalam politik dan ekonomi. Keadilan adalah dasar utama Islam dan inilah yang membezakan Islam dengan agama-agama yang lain.
Islam mengiktiraf hak-hak orang ramai untuk hidup tanpa lapar dan ketakutan. Dan menganggap ianya satu sebab untuk memuja tuhan, “Maka hendaklah mereka menyembah tuhan Kaabah ini (ALLAH) yang telah memberi makan kepada mereka kerana kelaparan dan telah mengamankan mereka daripada ketakutan” (Surah Quraisy: ayat 3 & 4). Dari segi politiknya perjuangan kesatuan sekerja khusus untuk mendapatkan makanan bagi mencegah kelaparan dan keselamatan dari ketakutan. Apabila Nabi Muhammad S.A.W melihat orang fakir Arab berpakaian koyak-rabak, baginda merasa sungguh malu sehingga merah mukanya, pemandangan begini sudah tentu membuat pemerintah Islam malu. Adalah menjadi tanggungjawab negara untuk memberi keadilan melalui undang-undang sedangkan individu-individu dan persatuan cuma boleh mengajarkan kebaikan sahaja.
Para Fuqaha ada menyatakan bahawa keadilan pemerintahan kafir lebih baik daripada pemerintahan Islam yang zalim kerana fungsi utama negara Islam adalah untuk menegakkan keadilan. Jadi bila kesatuan sekerja berdiri teguh dibelakang orang-orang miskin dan memperjuangkan keadilan, mereka sebenarnya memperjuangkan cita-cita dan tradisi Islam. Isu-isu yang perlu dibincangkan di sini, adakah keadilan yang dituntut oleh kesatuan sekerja sesuai dengan konsep keadilan yang dituntut oleh Islam. Konsep keadilan yang dituntut oleh kesatuan sekerja adalah mempunyai elemen yang sangat subjektif. Walaubagaimanapun keadilan yang dituntut oleh orang-orang miskin membuat ianya hampir dengan keadilan Islam.
lslam boleh memberi sunbangan ke arah untuk menyelesaikan krisis kesatuan sekerja apabila kesatuan sekerja Islam membuat tuntutan di atas dasar keadilan Islam, mereka akan memperolehi kesahihan, perundangan yang bercorak dan mirip kepada lslam. Ini bertetapan dengan apa yang dilaungkan oleh Konfederasi Buruh Islam Antarabangsa.
Hak untuk Berkesatuan
Setengah pemikir Islam berpendapat Islam melarang pekerja dari bergabung. Islam bukan hanya mengiktiraf pergabungan malahan menggalakkannya. Adalah diketahui umum bahawa Islam memuji perkumpulan dan menggalakkan umatnya bersembahyang berjemaah. Logiknya apabila individu-individu berkumpul kesemua mereka akan melupakan kepentingan peribadi masing-masing dan berjuang ke arah keadilan. Jemaah akan menghapuskan sikap pentingkan diri sendiri, satu dosa dalam semua agama. Islam mengajar umatnya bekerjasama dalam semua hal dan mengucapkan salam diantara satu sama lain. Apabila pekerja-pekerja bersatu untuk menyelesaikan masalah mereka bersama mereka telah mengikut peraturan dan petunjuk Islam.
Hak untuk Pemulauan dan Mogok
Islam membolehkan kesemua orang yang dinafikan haknya yang dilindungi dibawah undang-undang, dilayani dengan buruk, dan dizalimi mempertahankan hak mereka. Atas prinsip inilah jihad diwajibkan oleh Islam. lni telah dihuraikan dengan jelas di dalam ayat 39, Surah Al-Haj dimana perang dihalalkan. “Telah diizinkan (berperang) ke atas orang-orang yang diperangi, disebabkan mereka teraniaya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa menolong mereka itu.” Dan seterusnya ayat 42 al-Syura “Hanya ada jalan terhadap orang-orang yang aniaya kepada manusia dan berbuat bencana kepada muka bumi tanpa kebenaran untuk mereka, seksa yang pedih.” Dari ayat tersebut serta banyak ayat-ayat tersebut, lslam dengan jelas memberi hak kepada seseorang untuk mempertahankan hak dan kebebasan.
Seorang Fuqaha yang terkenal Tag El Din Abdul Wahab al-Subky (wafat 777M) telah menulis satu buku mengenai tanggungjawab pekerja untuk menghindar dari terlibat dengan keria-kerja yang bercanggah dengan hukum-hukum Islam. Dia menyebut pegawai penjara wajib menolong membebaskan banduan iika ianya benar-benar dianiayai. Tukang gantung tiduk menggantung pesalah jika didapati pesalah sengaja dianiaya – jika tidak dia akan dipersoalkan di hadapan Allah kelak. – Tukang tidak boleh menggunakan kulit babi dan seterusnya “Tidak dibenarkan mematuhi perintah manusia jika ianya bercanggah dengan perintah Tuhan.” Tuhan tidak menerima pengabdian makhluknya jika ia menyalahi hukum Allah. lni ielas didapati dikebanyakan surah Al-Quran.
Pekerjaan dalam Islam ditadbir mengikut lunas-lunas Islam. Majikan dan pun pemerintah tidak boleh menyuruh pekerja membuat kerja yang bercanggah dengan lslam. Jika ini berlaku adalah menjadi hak dan tanggungjawab pekerja untuk mengelak dari melakukannya. Kita boleh menyatakan dengan yakin bahawa semua bentuk eksploitasi adalah bercanggah dengan ajaran Islam, dan pekerja berhak menentang eksploitasi tersebut secara damai.
Sekarang mari kita perjelaskan satu suku kata yang dibenci dan ditakuti iaitu mogok. Tindakan mogok dilakukan oleh pekerja-pekerja apabila semua saluran untuk perbincangan sudah buntu. Jika Islam memberi muslimin hak untuk mempertahankan tuntutan rnereka maka lslam tidak menghalang tindakan pasif seperti mogok. Tiada siapa yang boleh menyatakan dasar Islam tidak mengiktiraf mogok di dalam konteks masyarakat kapitalis ini. Yang penting bukan tekniknya akan tetapi niat dan tujuannya untuk menuntut keadilan. Jika ianya menepati dengan keadilan, Islam bukan hanya membenarkan malah menggalak tindakan tersebut.
Mogok adalah pertikaian perusahaan yang boleh mengakibatkan kekacauan, kemusnahan dan kehilangan harta benda. Ianya satu hukuman terhadap golongan kapitalis. Dalam ketiadaan keadilan Islam, mereka tiada pilihan. Jika keadilan Islam diaplikasikan di dalam undang-undang, mogok tidak perlu diadakan kerana keadilan Islam menjamin hak-hak para pekerja dilindungi. Jika ada percanggahan, mahkamah boleh memperbetulkannya.
Perjanjian Kolektif
Di dalam Islam ianya mengiktiraf kebebasan pihak-pihak yang terlibat dalam semua urusan atau transaksi sama ada dalam urusan jual beli dsb. lslam mengiktirafnya sekiranya ia menepati prinsip-prinsip dan peraturan Islam. Islam menekankan unsur-unsur kebebasan dan keadilan untuk kedua-dua pihak yang membuat perjanjian. Mesti bebas dari elemen-elemen paksaan dan menepati dengan kehendak peraturan-peratuan lslam.
Jika perjanjian itu dibuat di mana terdapat unsur-unsur paksaan atau penindasan atau ada di antara pihak yang terpaksa akur atau ia mengandungi unsur-unsur yang tidak halal maka perjanjian tersebut tidak dianggap sah disisi undang-undang. Bila kita membicarakan soal perjanjian diantara majikan dan pekerja, ia cukup jelas bahawa pekerja tidak setaraf dengan majikan. Dia tidak mempunyai hak walaupun memilikinya di segi undang-undang.
Pekerja perlu makan dan membantu keluarganya. Dia tidak mempunyai apa-apa cuma punyai tenaga empat kerat untuk bekerja keras atas syarat-syarat yang ditentukan oleh majikannya. Dia tidak mempunyai kuasa kerana tidak setanding dengan majikannya dan sentiasa di bawah tekanan sosial. Mereka juga tidak mempunyai kuasa tawar-menawar. Di sana terdapat perjanjian bertulis yang mereka terpaksa akur jika mereka ingin bekerja. Mereka tidak boleh mengubah suai mana-mana perjanjian tersebut. Mereka terpaksa menerima keseluruhan perjanjian itu atau jika tidak mereka akan hilang peluang menerima tawaran pekerjaan itu.
Pekerja terpaksa bekerja dan tiada pilihan lain, terpaksa menerima perjanjian itu walaupun ianya tidak adil. Perjanjian ini digelar “perjanjian berat sebelah.” Ianya tidak menepati prinsip-prinsip Islam. Seorang ulama yang muktabar Syahuda Abdul Kadir Auda di dalam bukunya Syariat Islam dan Undang-undang Moden memetik surah A1- Baqarah ayat 282 yang menerangkan dengan terperinci kaedah-kaedah perjanjian Islam. Ayatnya seperti berikut: “Hai orang-orang yang beriman, apabila akan membuat perjanjian untuk masa depan dengan satu sama lain hingga masa yang ditetapkan, hendaklah kamu tuliskan dan hendaklah seorang penulis di antaramu menuliskannya dengan keadilan. Janganlah enggan penulis itu menuliskannya. Sebab itu hendaklah ia menuliskan dan hendaklah membacakan orang yang membuat perjanjian dan hendaklah ia takut kepada Allah dan janganlah dikurangkan hak orang sedikit pun. Kalau orang yang membuat perjanjian itu bodoh, lemah atau tiada kuasa membacakan, hendaklah walinya membacakan dengan keadilan. Persaksikanlah orang yang membuat perjanjian itu dengan 2 orang saksi lelaki dan jika tidak ada 2 orang saksi lelaki cukuplah seorang lelaki dan 2 orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukaii menjadi saksi, kerana jika lupa salah seorang di antara keduanya, teringat orang yang lain, jangan enggan saksi-saksi itu bila mereka dipanggil orang. Janganlah kamu malas menuliskan perjanjian itu, baik sedikit ataupun banyak hingga sampai janjinya.”
Mohamad Asad di dalam bukunya “The Message of Quran” menterjemahkan ayat yang bermula dengan:
Tuliskan perjanjian” dan selanjutnya “Tulis dengan keadilan…”
Daripada surah ini kita boleh mentafsirkan seperti berikut:
1. Perjanjian mesti bertulis.
2. Penulis berkecuali – bukan satu atau dua belah pihak – diamanahkan untuk menulis perjanjian itu. Mereka mesti membuatnya dengan keadilan.
3. Pihak “yang lemah” (tiada kuasa) mesti diberi kuasa untuk menentukan syarat-syarat perjanjian tersebut. Antara pekerja dengan majikan, pekerja adalah pihak yang lemah. Biasanya majikan yang mengutarakan syarat-syarat di dalam perjanjian bukannnya pekerja. Peraturan ini jelas bercanggah dengan surah ini.
4. Jika pihak yang berkenaan dengan perjanjian itu lemah atau kurang arif dan tidak mampu mengusulkan syarat-syarat, biarlah walinya membuatkan syarat-syarat tersebut. Peraturan ini sama seperti peraturan yang sebelumnya dan adalah sangat mustahak.
Mohamad Asad menerangkan makna lemah atau pihak yang tidah berkeupayaan di dalam pekerjaan. “Kerana mereka adalah lemah dari segi fizikal atau tidak memahami sepenuhnya istilah-istilah perniagaan yang digunakan di dalam perjanjian tersebut. Atau tidak fasih dengan bahasa yang digunakan di dalam perjanjian itu.” lnilah keadaan sebenar yang dialami oleh pekerja-pekerja sekarang ini.
Pekerja lemah disegi keadaannya sendiri: dia kurang arif dan tidak faham istilah-istilah yang ditulis di dalam perjanjian itu. Kebanyakan pekerja di negara-negara membangun termasuk di dalam golongan ini. Jadi penjaga perlu diamanahkan untuk menetapkan syarat-syarat bagi pihak pekerja. Tidak ada penjaga yang lebih sesuai untuk tugas ini selain daripada kesatuan sekerja.
Pada kesimpulannya surah diatas menegaskan tanpa ragu-ragu lagi bahawa perjanjian yang diputuskan oleh majikan terang-terang bercanggah dengan konsep yang dinyatakan oleh Al-Quran. Tidak ada pihak yang berkecuali menulis, menjadi saksi-saksi atau wali-wali untuk pihak pekerja. Perjanjian itu adalah perjanjian yang dipaksa kepada pihak pekerja. Sebaliknya perjanjian bersama yang dirundingkan oleh kesatuan sekerja dengan majikan terjamin dan mengandungi kesemua aspek-aspek dan unsur-unsur kebaikan lslam.
Diedarkan oleh:
Kesatuan Pekerja-Pekerja Harris Advanced Technology (M) Sdn. Bhd. (Nombor Pendaftaran 622) pada Mesyuarat Agung Luarbiasa (Mesyuarat Agung ke-10) Sempena Ulangtahun yang ke 10 (1989-1999)
Sumber artikel di atas - Blog Labour Bulletin

FAEDAH 'UNEMPLOYMENT' - Bantuan Sementara Pekerja Tak Ada Kerja Sehingga Dapat Kerja Baru? Ada yang 'confuse'?

PEKERJA yang kehilangan kerja dan sedang cari kerja baru memerlukan bantuan kewangan sehingga beliau mendapat kerja baru. JUSTERU, peruntukkan 'UNEMPLOYMENT BENEFIT' atau FAEDAH PEKERJA TAK BEKERJA' - ini adalah sejenis Social Security - dan kerajaan yang harus bertanggungjawab mengendalian skima ini - bukan syarikat insuran swasta. [Lihat contoh skima 'Unemployment Benefit' di Thailand di bawah ini]

Ini BUKAN tabung pampasan - di mana pekerja yang tidak dibayar gaji/bayaran notis pemberhentian kerja/ dll oleh majikan untuk mengambil duit daripada 'Unemployment Benefit' ini. Apa yang harus dibayar majikan harus dibayar majikan - dan pekerja harus menunutut terus daripada majikan melalui proses undang-undang. Ramai pemimpin pekerja dan pekerja 'confuse' tentang pekara ini. Kenapa lepaskan majikan daripada obligasi membayar kepada pekerja - itu mungkin skima lain (dibincang dalam post lain) 

Siapakah yang harus mendapat bantuan ini?

Semua pekerja yang kehilangan kerja sama ada kerana telah diberhentikan kerja(termination), di 'retrench' atau  'lay off' akibat penutupan kilang atau tindakan majikan mengurangkan pekerja, pekerja yang diberhentikan akibat VSS atau perjanjian/skima pemisahan yang lain, atau pekerja yang sendiri berhenti kerja. 

Mengapa bantuan diperlukan?

Tanpa kerja dan gaji, pekerja akan mendapati sukar membayar bil perkhidmatan asas yang perlu dibayar setiap bulan, membuat pembayaran bulanan akibat obligasi yang muncul kerana pinjaman rumah/kereta atau juga skima sewa beli, membuat perbelanjaan biasa  menampung keluarga dan diri sendiri,.. Justeru bantuan sementara diperlukan pada masa ini.

Berapa jumlah wang bantuan diperlukan setiap bulan?

Walaupun akibat cara hidup, jumlah gaji terakhir diperlukan TETAPI ini agak sukar bagi pihak kerajaan. Justeru, apa yang diwajar mungkin 50% gaji terakhir atau RM1,500 setiap bulan, jumlah mana yang paling rendah..(Ini formula yang digunakan di negara jiran Thailand.

Untuk jangka waktu berapa lama pekerja berhak mendapat faedah ini? Apa syarat?

Sehingga pekerja mendapat gaji pertama kerja baru yang diperolehi, atau paling maksima untuk 6 bulan sahaja. Satu syarat adalah bahawa pekerja akan sedia mencari kerja, menghadiri kursus perlu oleh pihak kerajaan, di mana kursus mungkin beraneka jenis. Ada kursus untuk mengatasi isu psikoloji dan juga mengajar pekerja bagaimana terus hidup dengan pendapat kini paling maksima RM1,500 atau kurang dalam tempuh usaha mencari kerja/pendapatan baru dilakukan. 

Siapa harus mengendalikan skima ini - Kerajaan, iaitu PERKESO?

Kerajaan harus pantau memastikan pekerja benar-benar mencari kerja baru - di mana ini harus dilakukan setiap 2 minggu atau satu bulan (Kita tidak mahu orang menyalahgunakan skim bantuan pekerja ini). Pemantauan dan pengagihan bantuan bulanan harus dijalankan oleh kerajaan - agensi yang harus melakukan ini adalah SOCSO (atau PERKESO) - ini juga sejenis social security. Ini sesuatu perkara yang tidak harus diswastakan atau di-'outsource' kepada syarikat swasta. 

SOCSO wajar kerana sudah ada infrastruktur - pejabat dikebanyakkan bandar dan pegawai yang sudah biasa berurusan membantu pekerja bila susah.

UNEMPLOYMENT BENEFIT - Bantuan sementara sehingga pekerja dapat kerja baru - justeru pekerja kena aktif cari kerja, dan kerajaan juga perlu aktif membantu pekerja mendapatkan kerja baru. Ini tugas kerajaan - bukan syarikat swasta.

Mengapa tidak syarikat swasta yang dipertanggungjawab mengendalikan TABUNG 'Unemployment Benefit' ini?

Motif syarikat swasta adalah 'keuntungan' bukan kebajikan pekerja atau orang - di mana, ini adalah motif sebuah kerajaan - Kebajikan rakyat diutamakan. Syarikat swasta juga boleh tutup kerana 'bankrap' - dan yang akan dianiyai adalah pekerja...justeru harus dikendalikan oleh kerajaan - dengan jaminan kerajaan. Kita sudah pun ada PERKESO... jadi tak perlu diberikan kepada syarikat insuran swasta untuk mengendalikan...jikapun diberikan, kerajaan mesti memberikan JAMINAN supaya semua yang dijanjikan akan tercapai...

Jika Perkeso mahu membeli insura dari syarikat swasta - itu hak PERKESO, tapi pekerja akan hanya berurusan terus dengan SOCSO[PERKESO] sahaja.

Adilkah jika pekerja yang sendiri meletak jawatan juga diberikan faedah ini?

Benar - mungkin untuk pekerja yang sendiri meletak jawatan tanpa alasan munasabah atau jsutifikasi, pekerja tersebut hanya akan diberikan bantuan untuk tempuh maksima 3 bulan. 

Setengah pekerja berkeputusan meletak jawatan kerana mungkin ada penganiyaan, pencabulan hak, ganguan seksual dan untuk beranika sebab yang lain - tetapi memilih tidak mahu buat aduan kepada pihak berkenaan atau buat apa-apa tuntutan. Biasa pekerja yang mahu tinggalkan kerja untuk kerja yang membayar lebih atau lebih baik tidak akan berada dalam keadaan tak ada kerja baru...mereka akan terus letak jawatan dan mulakan kerja baru, dan tidak akan dalam keadaan yang memberikan mereka hak mendapat bantuan ini.


Sewajarnya pekerja, majikan dan juga kerajaan membayar. Yang dicadangkan kini, adalah pekerja membayar RM2.50 dan majikan membayar RM2.50 untuk Faedah ini. MP Abdullah Sani mencadangkan kerajaan juga turut membayar RM2.50. Lebih baik peratusan gaji, jangan bayaran tepat macam ini - mungkin 1% gaji/pendapatan sebulan.

Cadangan wajar adalah bahawa peratusan sumbangan kepada PERKESO oleh pekerja dan majikan ditambah sahaja untuk faedah tambahan ini. Kerajaan dalam Bajet ini mungkin akan segera memasukkan RM1 billion supaya skima ini terus boleh bermula kini mulai Januari 2017, dikendalikan oleh PERKESO. 

PERKESO dibuka kepada semua pekerja termasuk mereka yang kerja sendiri, dan juga mereka yang menjalankan perniagaan kecil sendiri saperti warung makanan, bela ikan Patin, catering makan, dll - di mana sumbangan bulanan mereka harus ditentukan. Mereka yang tak ada majikan pasti mungkin akan harus membayar jumlah sumbangan peratusan pendapatan bulan yang sama sumbangan kedua majikan dan pekerja disektor swasta...Pekerja kerja sendiri kini tidak diliputi skim PERKESO - social security for workers..

BAJET 2017 - Apa kerajaan harus lakukan?

Kerajaan harus segera sumbangkan kepada PERKESO untuk skima 'Unemployment Benefit' jumlah RM1 Billion (atau RM500 juta) supaya pekerja yang hilang kerja sedang cari kerja boleh menikmati BANTUAN ini mulai 1 Januari 2017 [Ramai pekerja yang perlukan bantuan ini hari ini - tak guna dan tak prihatin untuk menangguhkan bantuan kebajikan ini bertahun-tahun. Mangsa banjir perlukan bantuan sekarang bukan dua tahun selepas banjir - sama juga pekerja yang hilang kerja perlukan Bantuan Sekarang - bukan dua atau 3 tahun kemudian]..

Buat masa ini, dicadangkan juga kadar bayaran PERKESO oleh majikan dan pekerja ditambah 1% kadar kini. 

- Wakil pekerja yang kini berurusan dengan kerajaan bagi pihak pekerja kena FAHAM apakah bentuk FAEDAH BANTUAN PEKERJA KEHILANGAN KERJA YANG SEDANG CARI KERJA BARU - UNEMPLOYMENT BENEFIT.

- Kalau, tak faham, wakil pekerja akan setuju kepada perkara yang salah dan akhirnya pekerja yang rugi...

- Ada setengah pemimpin kini 'confuse' - mengatakan tabung ini untuk membayar kepada pekerja yang ditipu majikan. Jika majikan tak bayar gaji dan lain-lain, mereka mahukan 'Unemployment Benefit' membayar duit keberhutangan majikan kepada pekerja - INI SALAH...Ini bukan tabung PAMPASAN... Ini adalah Faedah untuk membantu pekerja yang tak ada kerja sehingga mereka dapat kerja baru - bantuan sementara saja. Macam bantuan banjir...bantuan malapetaka yang lain...[Untuk skima pampasan atas kegagalan majikan membayar pekerja apa yang patut - itu kita bincang dalam pos lain, di mana untuk ini majikan sahaja yang harus membayar....bodoh minta pekerja bayar untuk ini...]

Contoh SKIMA 'UNEMPLOYMENT BENEFIT' sapertimana terdapat di negara Thailand...hak untuk semua pekerja.  Sila baca di bawah

In the case Unemployment Benefit

Criteria and Entitlement Benefits

Having made contributions towards unemployment for not less than 6 months within a period of 15 months prior to unemployment

Terms and conditions giving rise to the entitlement:

  1. Must apply for registration of the unemployed at the State Unemployment Office within 30 days without having to wait for the Unemployment Certificate from the Employer as to declare the entitlement tentatively.
  2. Is capable of performing the work and is ready to take on suitable job as offered.
  3. Must not reject the job training.
  4. Must report to the Employment Office for not less than 1 time per month.
  5. The unemployed must not be terminated from employment thanks to:
    • Dishonest on duty
    • Commission of criminal offense to the detriment of the employer
    • Serious infringement upon working rules, or regulation or lawful working order
    • Abandoning the duty for 7 days consecutively without good reasons
    • Recklessness which causes serious harms to the Employer
    • Having been sentenced to imprisonment by Court judgment.
  6. Must not be the person entitled to old age benefit.
  7. Shall be entitled to receiving the benefit starting from the 8th day from the date of unemployment with the last employer.
  8. Is not a voluntary insured under Section 39.

The Entitlement Benefits you shall receive:

In case of termination of employment:

  • Unemployment benefit for not more 180 days per year at the rate of 50 % of the wage calculated on the basis of maximum contributions of 15,000 Baht.

In case of resignation:

  • Unemployment benefit for not more than 90 days per year at the rate of 30 percent of the wage calculated on the basis of maximum amount of contributions but not more than 15,000 Baht shall be payable. If in the duration of 1 year, there was more than 1 application for the unemployment benefit, the counting of the unemployment benefit receiving period in total shall not exceed 180 days; the compensation benefit for loss of income shall be paid on monthly installment basis by crediting to the Bank Account as notified by the Insured.

Evidence to be used in Applying for Compensation Benefit

  • Application Form for Unemployment Benefit (SorPorSor. 2-01/7)
  • The Citizenship Identity Card
  • One photograph of 1 in size
  • Employment Certificate or a copy of the resignation letter of the Insured (SorPorSor.609). In the event of unavailability of the Form SorPorSor. 6-09, application for registration of unemployment can also be made.
  • A letter or an order from the employer terminating the employment (if there is any).
  • A copy of the first page of the Bank Savings Account on which the Account Name and the Account Number belonging to the Insured are shown.


  1. Must apply for registration of unemployment at the Office of Employment, the Department of Employment.
  2. Complete the Registration of Unemployment Form together with the following evidence:
    • The Citizenship Identity Card
    • One 1 photograph.
  3. Complete the Application Form for Unemployment Benefit together with the following evidence:
    • Letter of Termination of Employment or a copy of the Notice of Leaving Employment (SorPorSor.6-09) or a letter or an order from the employer terminating the employment (if there is any).
    • A copy of the first page of the Bank Savings Account on which the Account Name and the Account Number are shown.
  4. The officer of the Employment Office shall conduct an interview/ an inspection of the qualification and records of employment.
  5. The officer of the Employment Office makes available job vacancies in 3 locations for the unemployed insured to choose.
  6. If a suitable job can not be found, the officer of the Employment Office will coordinate the effort by sending the unemployed insured to receive vocational (skill) training as necessary. If the insured returns to work in the same place of business or refuse the work or job training provided and fails to show up as required, the Office of the Social Security shall suspend the payment of benefit immediately.
  7. The officer shall enter the status of the insured in the case of unemployment in the central database.
  8. The officer of the Office of Social Security shall retrieve information on the unemployed insured for a review according to the terms of entitlement.
  9. Having had complete qualification, the Office of the Social Security shall transfer the compensation benefit for loss of income according to the Insured 's entitlement through the Insured 's bank account once a month via 8 commercial banks, namely, Krungthai Bank Plc; Bank of Ayudhya Plc; Bangkok Bank Plc; Siam Commercial Bank Plc; Kasikorn Thai Bank Plc; Thai Military Bank Plc; Siam City Bank Plc ( commencing 1 October 2006) and The Islamic Bank of Thailand (commencing 1 January 2007).
  10. If the Applicant for compensation benefit is not satisfied with the order for the compensation benefit payment, an appeal can be filed within 30 days of receipt of the order.
Chart of Social Security Operation in case of Unemployment 

Source: Thailand Social Security Office Website